Posted by TheEnd • 07-03-2018 11:16

Bakkhius




Bakkhius

Prologue: Tempus Fugit

WARNING: CERITA INI MUNGKIN AGAK SEDIKIT PANJANG. LALU, SEGALA KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT, DAN PERISTIWA MERUPAKAN SUATU KEBETULAN SEMATA.

*****

- Jakarta -

- Sebuah situs arkeologi yang telah diekskavasi sejak lima bulan lalu -

"Letakkan artefak itu secara perlahan di kain itu," seru seorang pria kurus pendek. Ia menunjuk sebuah kain yang telah digantungkan khusus untuk menampung artefak utama itu. Artefak yang mereka cari-cari.

Tiga orang pria kekar yang mengangkat artefak berupa sarkofagus itu segera memindahkan artefak itu dari sebuah lubang bawah tanah yang terkubur menuju kain yang telah disediakan. Mereka meletakkannya secara perlahan di atas kain itu untuk kemudian dibersihkan dengan hati-hati.

"Tak diragukan lagi. Ini adalah artefak tertua dan terpenting di sini, dan merupakan artefak yang kita cari-cari selama ini. Dari pengukuran Karbon 14, kotak ini sudah berusia sekitar 400 tahun... Semenjak kerajaan Majapahit masih eksis" seru wanita yang memegang catatan-catatan dari penelitian itu. Pria lain yang lebih muda darinya agak terkejut.

"Majapahit? Tapi, ini sebuah sarkofagus, peti untuk para fir'aun Bagaimana bisa ia tiba selama itu, sementara waktu itu kolonialisme masih jauh dari kenyataan??" kata pria muda itu.

"Bangsa Indonesia telah menjalin hubungan dagang dengan banyak bangsa sebelum Majapahit berdiri. Bahkan, salah satu ayat al-Quran dan Alkitab menyinggung soal 'kapur barus' yang saat itu banyak didapat pedagang Timur Tengah dari Sumatra." tukas wanita itu menjelaskan. Pria muda itu hanya bisa terdiam.

"Tepat. Lagipula, ekskavasi ini juga merupakan lanjutan dari penemuan candi bawah tanah yang sempat heboh di media massa itu. Jadi, kebudayaan hindu setidaknya berpengaruh terhadap artefak ini." terang seorang pria lain yang mengenakan sebuah jas laboratorium beserta kacamata minus tebal. Dilihat dari penampilannya, sepertinya ia adalah ahli kimia yang ditugaskan ikut serta dalam proyek ekskavasi itu.

"Hei, aku menemukan sesuatu yang menarik di sini" seru salah seorang pria lain, bertubuh kurus, mengenakan setelan biru navy dan celana cokelat gelap, nyaris hitam. Ia berhasil mencongkel peti sarkofagus itu dengan bantuan ketiga orang kekar yang mengangkat sarkofagus itu, setelah berusaha menyingkirkan beberapa mycelium jamur jenis tertentu.

Ketiga ahli itu - sang wanita ahli sejarah, si pria muda, serta sang pria ahli kimia - lantas menghampiri pria kurus dengan pakaian serbagelap itu. Pemimpin ekskavasi, pria kurus pendek itu juga menghampiri mereka.

"Lihat Apakah ini tampak tak masuk akal??" kata pria berpakaian serbagelap itu. Semua orangpun melongo ke dalam sarkofagus itu.

"Ini... Ini adalah mayat seorang ras kaukasoid Bagaimana bisa mayat seorang kaukasoid bisa berada di dalam sarkofagus, lalu dikurung dalam sebuah candi di Indonesia?" ujar pria muda itu, yang merupakan seorang geolog - kebetulan juga seorang antropolog.

"Kita lihat umurnya," tukas profesor ahli kimia yang segera mengambil sebuah pinset. Ia mengambil secuil kulit mayat itu untuk dihitung jumlah C-14 -nya.

Namun, nampak sesuatu menggeliat keluar. Sesuatu, seperti seekor cacing, menggeliat dan berjalan di atas pinset menuju tangan profesor itu.

"Hei, itu cacing tambang Ancylostoma Duodenale Segera singkirkan itu" perintah pria kurus pendek yang segera bergidik menjauhi cacing berbahaya itu. Namun, tanpa ia sadari, ratusan bahkan ribuan cacing itu telah berada di sekitarnya.

"Aaaaahhh" jerit sang wanita. Ia menjatuhkan catatan yang dipegangnya dan terkapar. Seseorang menyerangnya hingga ia mengeluarkan banyak darah.

Mayat itu.

"M-mayat itu hidup" seru pria muda itu. Ia mengambil sebuah sekop dan memukulkannya pada mayat itu. Namun, sekop itu justru patah menjadi dua bagian.

Mayat itu menoleh padanya dan bergerak sangat cepat. Pria muda itu segera diterkam oleh mayat haus darah itu. Cacing-cacing tambang yang bergelantungan di beberapa ruam mayat itu segera menjalari tubuh pria muda itu.

"Proyek ini jadi bencana Segera batalkan dan selamatkan diri kalian selagi bisa" seru pria kurus pendek itu. Ia segera berlari menuju pintu ekskavasi, namun ratusan cacing segera merambati tubuhnya. Cacing-cacing itu memasuki celah-celah tubuhnya seperti telinga, hidung, dan lain-lain.

"Rencanaku berhasil hahaha..." seru pria ahli kimia itu. Ia segera mengambil catatan yang dijatuhkan wanita itu. "Aku akan jadi satu-satunya orang yang menemukan situs peninggalan ini"

"Selamat untukmu bos," kata salah satu dari ketiga pria kekar itu, "tapi bagaimana caranya kita keluar dari sini?"

"Tentu saja aku punya caranya. Ikuti aku." ujar pria itu. Ia berjalan menuju salah satu pilar yang dibangun untuk ekskavasi itu diikuti ketiga anakbuahnya. Jalan di dalam pilar itu terhubung dengan pintu masuk ekskavasi itu.

Akan tetapi, jalan itupun juga telah dipenuhi cacing-cacing parasit yang mematikan.

"Sialan, ternyata di sini sama saja," maki pria tua itu.

Tiba-tiba, seseorang berteriak.

"Aaaahhh"

Salah satu pria kekar itu diserang. Di belakangnya, wanita yang merupakan ahli sejarah itu menggigit lehernya dan mengunyah dagingnya.

Wanita itu tak nampak seperti manusia. Keempat gigi taringnya meruncing, luka-luka seperti sayatan memenuhi tubuhnya, matanya memerah. Pria yang diserang itu segera ambruk tak berdaya.

"Tolong... Tolong aku..." pinta pria itu. Namun, ketiga pria yang memandanginya tak menghiraukannya. Mereka justru pergi meninggalkannya sekarat.

"Bos, kita seharusnya menolongnya" seru salah satu anak buah pria tua itu. Namun, pria itu justru menggeleng.

"Dalam rencanaku, kita akan keluar dan mengubur kembali candi ini. Lalu setelah itu, kita akan kembali lagi ke sini untuk mengambil kembali apa yang berhasil kita temukan dengan persiapan lebih besar. Apakah ada bagian untuk menolongnya?" tutur pria itu. Kedua anak buahnya menjawab, "tidak, bos."

"Itulah yang ingin kudengar. Lagipula, tidak lama lagi ia juga akan menjadi seperti mereka, dipenuhi cacing-cacing parasit dalam tubuhnya. Apakah kalian mau seperti mereka?" kata pria itu.

Kedua pria kekar itu menggeleng. Pria tua itu tersenyum.

"Makanya ikuti saja aku."

-----

Mereka berhasil keluar dari lubang ekskavasi itu.

"Itu mobil kita bos." ujar salah satu anak buah sang ahli kimia. Ia menunjuk mobil itu.

"Baik, segera kubur jalan keluar lubang itu dan kita pergi dari sini." titah pria itu. Kedua anakbuahnya segera mengambil sekop dan bergegas mencangkuli tanah.

Namun, begitu mereka menumpuk tanah-tanah itu, seutas tangan menyembul dari permukaannya. Dua orang segera muncul secepat kilat dari balik tanah itu.

Si pria muda langsung menerkam salah satu pria kekar itu, sementara pria satunya diterkam oleh sang pria kurus pendek.

"T-tolong, bos Tolong kami" seru kedua pria itu. Namun, bosnya justru menyeringai.

"Selamat tinggal, pria-pria bodoh." ujarnya. Ia bergegas menuju mobilnya.

Akan tetapi, mobil itu tiba-tiba meledak. Pria itupun terkejut.

"Apa yang..."

Dari bawah tanah, muncul sebuah tangan yang segera meraih kakinya. Iapun ambruk di atas tanah, menjatuhkan catatan yang dipegangnya beserta kacamata minusnya.

Pria itupun menendang-nendang berusaha melepaskan pegangan itu. Akan tetapi, cengkeramannya terlalu kuat.

"Apa kabar, Faris..."

Seutas suara terdengar dari kepulan asap tebal di atas mobil itu. Pria itu terkejut.

"Siapa itu?" seru pria itu. Suara itu hanya tertawa.

"Apa kau tak mengingatku? Kita baru saja bertemu." ujar suara itu. Pria itu makin bingung.

Asap ledakan mobil itu mulai menipis. Ketika akhirnya sang empunya suara kelihatan, pria itu terkejut. Walaupun samar ia melihatnya karena minus, namun ia tahu siapa pemilik suara itu.

Sang mayat dari dalam sarkofagus.

"K-kau? Tapi, bagaimana bisa kau di sana, sedangkan kau belum melewati kami? Lagipula, bagaimana kau bisa bicara? Bagaimana kau tahu namaku?" kata pria itu kebingungan.

"Aku adalah rajanya, Faris. Aku bisa melakukan segalanya." kata mayat itu. Cacing-cacing bergelantungan di rongga mulutnya ketika ia bicara.

"Sekarang, tuntaskan ia."

Tangan yang memegang kaki pria itupun menariknya ke dalam tanah. Sang penarik, pria berpakaian serbagelap itupun segera memangsa pria itu dengan ganas.

Mayat itu mengalihkan pandangan ke arah jalanan yang ramai. Ia tersenyum.

"Sekarang mari kita lihat, sudah berapa jauh dunia ini berubah..."

-Bersambung-

___________________________________________________

NB: Hai anggota kripikpasta.. Udah lama saya nggak nongol di sini.. Jadi kangen rasanya.. Pada kangen juga nggak? :D
Ini cerita pertama saya setelah sekian tahun tidak memposting.. Jadi, selamat menikmati :)
profile picture
RyLC , Kripik Encounter
07-03-2018 12:26
Jgn panjang2, aku gk kuat.
profile picture
TheEnd , Kripiker
07-03-2018 12:34
RyLC wrote

Jgn panjang2, aku gk kuat.


Berat y.. Masih ada aja Dilan-Dilanan -_-
profile picture
KARLIN_P , Kripiker
08-03-2018 13:36
The End Kangen w wkw. GC WA Kripik adakah?
profile picture
TheEnd , Kripiker
08-03-2018 13:59
KARLIN_P wrote

The End Kangen w wkw. GC WA Kripik adakah?


Yes ada yg kangen ????????
Ada ada, kirim no. aja di pc ntar dijoinin
profile picture
TheEnd , Kripiker
08-03-2018 14:00
TheEnd wrote

Yes ada yg kangen ????????
Ada ada, kirim no. aja di pc ntar dijoinin


Lah kok jadi tanda tanya sih, padahal emot sedih T,T
profile picture
TheEnd , Kripiker
08-03-2018 14:14
Ah lupa kalo gabisa pc lagi.. hmm..
profile picture
KARLIN_P , Kripiker
08-03-2018 14:32
TheEnd wrote

Ah lupa kalo gabisa pc lagi.. hmm..


G nyimpen no. Ku? Om TheEnd jaat.
profile picture
KARLIN_P , Kripiker
08-03-2018 14:49
KARLIN_P wrote

G nyimpen no. Ku? Om TheEnd jaat.


Om nama Linenya apa
profile picture
TheEnd , Kripiker
08-03-2018 15:20
KARLIN_P wrote

G nyimpen no. Ku? Om TheEnd jaat.


Pake hp baru makanya no. nya ilang semua
profile picture
TheEnd , Kripiker
08-03-2018 15:24
KARLIN_P wrote

Om nama Linenya apa


Nih id line: theeeend