Posted by puspamandha • 25-07-2019 11:04

Objek Penelitian




Namaku Reyna. Aku adalah anak yatim piatu. Ibuku meninggal sesaat setelah dia melahirkanku. Aku bahkan tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Ayahku menghilang ketika aku berumur lima tahun. Saat itu, masih ada tetangga yang mau mengurusku secara sukarela.

Aku makan secukupnya, berusaha untuk tidak menyusahkan mereka. Aku tidak menjalankan pendidikan formal. Hingga saat aku berumur sepuluh tahun, datanglah sepasang suami istri yang ingin mengadopsiku. Mereka bilang, anak tunggal mereka yang bernama Bem menginginkan adik perempuan. Tapi karena ada masalah pada rahim sang ibu, ia tidak di anjurkan untuk memiliki anak atau hamil lagi. Maka dari itu mereka memutuskan untuk mengadopsiku.

Mereka (Ibu dan Ayah tiriku) sama baiknya dengan tetanggaku. Mereka bahkan menyekolahkanku. Dan, kakak tiriku yaitu Bem adalah kakak terbaik sepanjang masa. Maksudku, ia sangat menyayangiku. Perhatian dengan setiap hal yang aku lakukan. Selalu memastikan bahwa aku tidak pernah keluar rumah lewat dari jam sepuluh malam.

Saat ini, umurku sudah menginjak 16 tahun. Bem tidak jarang bercerita tentang kehidupan sekolahnya, bahkan tentang masalah cintanya yang rumit. Dia sangat terbuka padaku. Ia juga mengutarakan cita-citanya sebagai seorang ilmuwan. Dan ia mengaku saat ini sedang menjalankan sebuah penelitian. Tidak ada yang ia tutupi kebenarannya dariku. Seperti saat ini. aku sedang berda didalam kamarnya untuk mendengar curahan hatinya tentang perempuan yang ia sukai ternyata bisexual, dan mengaku sedang menyukai seorang wanita.

"Ah iya, laptop ku tertinggal di rumah temaku," ia bangkit dan berkata lagi, "Rey, tolong tetap dirumah hingga aku kembali, oke?"

Aku hanya mengangguk. Ayah dan Ibu masih belum pulang dari pekerjaan mereka. Sekarang tersisalah aku sendiri dirumah ini. Aku bangkit menuju ponselku yang sedang mengisi daya, mencabutnya. Kakiku tidak sengaja menyenggol kaki meja sehingga meja kecil itu sedikit tergeser dari tempatnya. Saat aku hendak merapikannya, aku melihat sesuatu di dinding yang tertutup oleh meja sebelumnya.

Bulat, berwarna merah, dan menempel di dinding dengan ukuran kecil. Ya, itu terlihat seperti sebuah tombol. Aku iseng memencetnya. Dan aku dibuat terkejut dengan dinding yang tiba-tiba saja terbelah, layaknya sebuah pintu yang terbuka otomatis. Aku diam dalam keterkejutan. Menatap ke dalamnya yang gelap.

Untuk menuntaskan rasa penasaranku, aku melangkah masuk. Gelap. Mataku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Aku melangkah sambil meraba dinding, mencoba menemukan saklar. Sesekali kakiku tersandung sesuatu. Aroma disini sangat tidak sedap. Bau anyir. Percayalah, bulu kuduk ku sudah dengan tegak berdiri saat ini.

Saat aku berhasil menyentuh saklar dan ruangan ini sudah bercahaya, aku menahan nafas. Dan aku sadar bahwa yang aku sandung sedari tadi adalah tubuh manusia. Maksudku, bagian-bagian tubuh manusia yang sudah terpisah. Aku tidak sanggup menahan berat badanku saat melihat tubuh manusia tanpa kulit yang digantung di langit-langit. Di sayap kiri, terdapat rak yang penuh dengan toples. Toples itu berisi bola mata, dan aku yakin itu adalah bola mata asli. Bercak darah bertebaran baik di dinding, lantai maupun langit-langit.

Mataku masih liar menjelajahi ruangan ini. Aku menahan muntah saat menemukan tiga kepala dengan wajah yang sangat aku kenal. Mereka adalah Ayah kandungku, dan pasutri mantan tetanggaku dulu. Aku mendengar suara langkah kaki menuju kemari. Aku tidak sanggup untuk sekedar bangkit dan melarikan diri. Dengan posisi terduduk di lantai kotor ini, aku dapat melihat wajah kakakku, Bem.

Ia menyeret sebuah karung. Tampaknya sangat berat hingga bisa membuatnya berkeringat. Ia menatap ku sekilas. Wajahnya datar. Tangannya sedang dilapisi oleh sarung tangan putih dengan sedikit bercak merah. Aku meneguk ludah susah payah. Tidak ada yang bisa kulakukan saat ini.

Ia membuka karung itu, mengeluarkan isinya hingga mendarat di lantai. Aku tak dapat menahan tangisanku ketika tahu bahwa it adalah tubuh manusia yang lagi-lagi sudah ter mutilasi. Ditambah lagi, aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka adalah orang tua tiriku a.k.a orangtua kandung Bem.

Saat semua isi dari karung tersebut keluar. Ia berjalan perlahan ke arahku. Menatapku dalam. Saat sudah tepat di hadapanku, ia melepas sarung tangan dan membelai wajahku. Dengan suara yang terdengar mengerikan ia berkata, "Apa kau mau jadi objek penelitianku?"

"AAAAAAAAAAA."