Posted by DontCallMyName • 03-08-2018 17:47

Kelas




Hidupku menjadi penuh ketakutan semenjak aku mengalami hal itu pada waktu aku msh muda, aku sering memikirkan kejadian pada waktu itu. Tidak ada yg percaya padaku meskipun aku menceritakannya berulang kali. Dan setelah menemukan web ini aku memutuskan menceritakannya disini agar aku dapat sedikit tenang...

-------------
Semua itu berawal pada saat aku berumur kurang lebih 14 atau 15 entahlah, keluargaku pindah rumah karena ayahku mendapatkan pekerjaan dengan upah yg lebih baik dari pekerjaan sebelumnya dan seminggu kemudian kami menjual rumah kami dan menyewa apartemen yg tidak terlalu jauh dari tempat ayahku bekerja. Kami pindah rumah pada saat sekolah baru memasuki semester awal otomatis aku mendapatkan sekolah yg baru. Ketika waktu sekolah tiba, aku berjalan dengan gugup ke sekolah yg tidak jauh dari apartemenku. Diperjalanan aku tidak bertemu dengan anak anak sebaya denganku mungkin karena jam ku kesekolah sedikit berbeda dengan yg lain karena aku baru pindah ke sekolah yg baru dan itu membuatku kesulitan mencari teman baru karena aku orang yg pemalu. Saya tidak berbicara sama sekali kepada siapapun pagi itu karena terlalu malu, sayapun mengambil jadwal kelas dari dalam tasku dan mengecek kelas pertamaku. Ruang 104 Mata Pelajaran Matematika, aku mengecek denah sekolah yg sempat diberikan oleh orangtuaku tetapi tidak ada ruang 104 di denah tersebut dan disekitarku tidak ada petugas sama sekali. Akupun mulai panik karena tidak tau harus kemana. Aku menyadari bahwa ada denah yg lebih lengkap di sebuah papan yg cukup besar dan terdapat beberapa bentuk seperti ruang kelas tetapi tidak ada nomor ruangannya di setiap bentuk. Dibagian bawah terdapat tulisan "Ruangan 300 sampai 310 berada disebelah kiri dan ruangan 200 sampai 230 berada di bagian tengah" melihat tulisan itu secara logika akupun berpikir ruang 104 pasti berada di bagian kanan. Akupun berjalan di koridor yg panjang, disekelilingku sangat sepi karena murid murid disini sudah masuk ke kelasnya masing masing ketika aku sibuk melihat lihat denah sekolah. Aku bisa saja bertanya kepada petugas di meja informasi dimana kelasku berada tetapi aku terlalu malu dan memilih untuk mencarinya sendiri. Aku menyusuri koridor yg panjang dan sedikit mengerikan karena sangat sunyi lalu jalanku terhenti karena terhalang oleh dua pintu kayu yg terlihat sudah tua akupun mencoba mendorongnya tetapi tidak terbuka. Seperti ada yg salah, seperti bagian gedung ini tidak perlu dimasuki siapapun. Tetapi aku berpikir, mungkin ada yg secara tidak sengaja menguncinya atau doronganku kurang kuat.

Akupun mencoba untuk mendobraknya dengan pundakku dan terdengar suara riet seperti bunyi per besi yg sudah karatan lalu pintunya terbuka. Aku sadar bahwa ada baut yg terlepas karena kudobrak mungkin karena sudah karatan. Aku ketakutan karena bunyi riet besi di hari pertama membuatku sedikit berlari kearah koridor yg belum ku jelajahi dan mencoba mencari seseorang untuk bertanya tentang dimana posisi kelasku. Koridor ini dipenuhi debu dan terlihat sudah tua dengan loker loker yg terbuka dan tidak terpakai. Dadaku terasa sedikit pengap karena debu yg beterbangan di koridor ini. Ketika sedang melihat lihat sekitar aku tersadar bahwa ada tulisan angka yg tertulis dipintu pintu yg seperti kelas. Pintu didekatku tertulis angka "100" akupun mengecek kembali jadwal pelajaranku untuk memastikan nomor ruang kelas pertama ku. Ya dan itu "104". Aku berjalan perlahan lahan menyusuri kelas sambil sedikit mengintip kedalam melalui jendela. Ruang 100, Kosong, Ruang 101, Kosong, Ruang 102, Kosong tetapi didalamnya terdapat kerangka manusia yg biasa digunakan untuk pelajaran sains tergantung diujung kelas dan itu cukup mengagetkanku. Ketika aku mengecek Ruang 103 (Kosong) aku mendengar suara bapak bapak dari dalam kelas selanjutnya (Ruang 104). Aku segera menuju ruang 104 dan mengintip melalui jendela ternyata penuh, banyak anak yg sedang memperhatikan kedepan dan didepan terdapat seorang paruh baya dengan kemeja coklat dan dasi kupu kupu yg kuperkirakan adalah seorang guru. Aku sedikit tidak percaya dan terdiam karena murid yg lain menggunakan seragam yg beda denganku, seperti seragam pada jaman dahulu dan kelas ini terlihat seperti film jadul atau pementasan drama jadul, guru itu berdiri disamping papan tulis yg berdebu.

Akupun mengesampingkan hal hal yg ganjil dan mulai mengetok pintu dan berpikir bahwa sekolah ini memiliki budget yg sedikit.

Guru itu tidak menyadari suara ketukan ku dan akupun mulai membuka pintu secara perlahan dan berjalan masuk. Murid lain tetap terpaku pada guru didepan dan tidak menghiraukanku yg baru saja memasuki kelas.

Akupun meminta maaf atas keterlambatanku dan beralasan bahwa aku tersesat pada saat mencari kelas ini, lalu aku mencari bangku yg kosong dan mulai mendudukinya. Aku merasa malu, pipiku terasa terbakar rasa malu karena aku harus sedikit mengganggu. Pikirku.

Beberapa detik kemudian guruku memulai pembelajaran seperti biasa. Nama guruku ialah Pak Telori. Dia mulai mencoret coret papan tulis dan menyuruh kami untuk menyelesaikan soal. Pembelajarannya terasa biasa saja kecuali fakta bahwa tidak ada yg menggunakan kalkulator untuk membantu menghitung. Disetiap aku mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan, Pak Telori selalu mengabaikanku dan menyuruh murid lain untuk menjawab.

Pembelajaran terasa sangat lama berakhirnya. Dan akupun merasa sangat bosan dan mengantuk. Aku hanya ingin pulang dan mengeluhkan kepada orang tuaku bahwa aku selalu diabaikan oleh guruku.

Akhirnya pembelajaran berakhir dan ketika aku keluar kelas aku merasa sangat lapar. Aku melihat jam tanganku dan kaget bahwa jam sekolah telah berakhir. Dan satu hari penuh hanya pelajaran matematika ??? Horor sekali. Akupun mulai membenci sekolah ini.

Aku berjalan santai menuju apartemenku dan terus berpikir tentang apa yg terjadi dari pagi tadi. Semuanya terasa aneh, tetapi aku harus segera terbiasa dengan sekolah baruku.

Sesampainya di rumah aku melihat ibuku sedang menelpon dan mukanya seperti kebingungan. Ketika ibuku mendengar aku pulang Ia memanggilku dan menunjukan muka marah lalu berbicara kepada org yg ditelpon untuk menunggu sebentar. Ibuku memarahiku karena telah melewatkan hari sekolah pertamaku.

Akupun kebingungan dan berkata kepada ibuku bahwa aku tadi seharian belajar disekolah, tetapi telpon dari sekolah mengatakan bahwa aku sama sekali tidak mengikuti pembelajaran di sekolah dan tidak melihatku lagi setelah aku melihat lihat denah sekolah. Akupun berkata bahwa aku diajari oleh Pak Telori di Ruang 104 sepanjang hari. Mungkin aku melewatkan registrasi ulang karena terlambat.

Ibuku melanjutkan menelpon ke sekolah dan mengatakan semua yg kukatakan kepada sekolah. Tiba tiba ibuku membeku dan muka ibuku berubah menjadi khawatir.

Ibuku mematikan telpon dan mengatakan padaku apa yg dikatakan sekolah.

Pak Telori sudah tidak bekerja lagi disekolah semenjak 40 tahun yg lalu. Dan juga Ruang 104 merupakan ruang kosong bekas tragedi penembakan di sekolah itu 40 tahun yg lalu. Dan pihak sekolah mengira bahwa aku sedang bercanda.

---------------
Malamnya akupun mencari di internet tentang berita penembakan disekolahku dan ternyata itu benar. Aku menemukan berita lama yg berisi tentang pembunuhan massal.

Seorang lelaki yg mengamuk memasuki sekolah dengan senjata api dan mulai menembaki semua yg ada dikelas hingga tidak tersisa. Dia menutup pintu dan mulai membunuh semua org yg ada dikelas matematika. Ada sebuah foto jadul yg menunjukkan tempat penembakan itu terjadi dan ternyata aku menyadari bahwa itu Ruang Kelas 104.

Ada juga foto foto korban penembakan. Dan aku menyadari bahwa semua korban sama persis dengan Pak Telori dan murid murid yg ada dikelas tempat aku menghabiskan seharian belajar matematika.

Jantungku seperti berhenti berdetak. Dan akupun jatuh sakit. Merinding hingga menusuk ke tulang untuk beberapa saat.

Setelah hari itu akupun pindah sekolah.

-------------
Sekarang sudah bertahun tahun berlalu dan aku telah menuliskan apa yg terjadi kepadaku tetapi tetap tidak ada yg percaya. Alasannya, kenapa sekarang ?

Kemarin aku mendapatkan surat. Tidak ada alamat, surat itu tiba tiba sudah berada didepan pintu rumahku. Isinya tentang undangan reuni kelas, dengan tanda tangan guru lamaku



Pak Telori