Posted by fifibellia • 15-06-2020 09:37

Red Nail Polish (PART II)




<div>Sepedaku melaju pelan menembus angin menerpa wajahku lembut dengan rambutku yang sengaja ku urai supaya tertiup angin. Aku ingin menikmati suasana senja di sore hari, kulajukan sepedaku menuju toko antic yang kuincar. Pewarna kuku baru sudah memenuhi otakku. Senyum Bahagia menghiasi wajahku, dengan membawa dua lembar uang serratus ribu, aku rasa aku akan membeli aksesoris lain cukup banyak.</div><div><p class="MsoNormal">Tak lama aku sampai di depan sebuah toko bergaya vintage, maka tidak salah kalau kusebut toko antik. Begitu turun dari sepedaku, aku memakirkannya tepat disebelah sepeda ontel tua yang terlihat rapih dan baru. Pikiranku terheran-heran dengan keadaan sepeda ontel tersebut. ‘Emang masih ada ya? Sepeda tua dengan kondisi sebagus ini’ batinku dalam hati. Kuhiraukan perasaan tersebut, lalu melangkah memasuki toko tersebut. ‘Permisi…’ ujarku pelan sembari membuka pintu. ‘Selamat dating…’ jawab seorang wanita dengan rambut hitam yang disanggul, mengenakan pakaian model kuno, blazer coklat tua dipadukan rok span hitam yang entah panjang atau pendek karena tertutup meja kasir yang terletak di depannya. Aku tersenyum, lalu bertanya “Disini ada pewarna kuku?” tanyaku pelan. “Sebelah sana dik” jawabnya sambil menunjuk ke salah satu rak diujung. Aku mengangguk lalu melangkah pelan menuju rak yang dimaksud. Jujur saja aku Kembali terheran dengan jawaban ibu kasir tersebut. ‘Kenapa dia memanggilku ‘Dik’ terasa sangat kaku bagiku’ pikirku.<o:p></o:p></div><div><p class="MsoNormal">Mataku menangkap beberapa rak yang dipenuhi pewarna kuku dengan berbagai macam warna. Warna yang sangat cantik dan menarik perhatianku. Banyak warna dari matte, bergliter, dan glossy. Kalau untuk diriku sendiri lebih suka warna matte namun terdiri dari beberapa campuran warna primer. Namun untuk saat ini aku mau membeli warna primer, hingga aku menemukan warna merah yang menarik, terlihat mencolok, berkelas namun tidak ‘kampungan’. Aku berjalan menghampiri pewarna kuku tersebut, anehnya hanya ada satu warna merah, berbeda dengan warna yang lain, terdapat sederet stoknya. ‘Ah… mungkin ini yang terakhir. Eh tapi ini toko baru buka, ah mungkin mereka toko lama yang baru pindah’ pikirku untuk menepiskan kekhawatiranku yang tidak jelas. Cukup lama aku memandangi pewarna kuku tersebut.<o:p></o:p></div><div><p class="MsoNormal">“Kau tertarik warna  ini?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba tepat di sebelah telinga kiriku. Aku sedikit terlonjak kaget,jantungku sempat mencelus. Tanpa mendengar suara derap langkah, tiba-tiba saja ada wanita yang bertanya padaku. Begitu aku menoleh, kudapati seorang ibu kasir yang tadi didepan pintu menyapaku. “I… iya bu… Saya tertarik warna ini, mana cuman satu lagi. Laku keras ya bu warna ini?” tanyaku memastikan kondisi pewarna kuku ini. Ibu kasir tersebut menggeleng “Oh tidak… ini hanya satu, khusus. Harganya juga mahal” jawabnya tersenyum misterius. Ku memperhatikan ekspresi ibu kasir tersebut kemudian menatap nametag yang terpasang di saku kanannya ‘Madam’. Ibu Madam. Bukannya Madam dalam bahasa Inggris artinya nyonya? Ibu Nyonya? “Bagaimana? Berniat membelinya? Masih banyak warna lain yang lebih murah” tanyanya lagi. Entah kenapa, seakan terhipnotis, aku mengangguk dan mengurungkan niat awalku untuk membeli aksesoris yang lain. “I..i…ya bu, saya mau bayar berapapun” jawabku tegas. Ibu Madam tersebut hanya tersenyum, anehnya kurasa senyumnya menyiratkan arti yang lain. Ia menuntunku ke kasir. Aku segera mengeluarkan uang sembari memperhatikan Ibu Madam tersebut. Ia membungkus pewarna kuku tersebut, memasukkan ke plastik klip berlabel ‘Madam’. Oh toko ‘Madam’, nama Ibu kasir, jangan-jangan dia sekaligus pemilik toko ini. Mataku terkejut Ketika Ibu Madam menyelipkan namaku secarik kertas. ‘Apaan tuh’ pikirku. Kurasakan jidatku berkerut. “Buka kertasnya di rumah ya. Itu hanya sebuah instruksi biasa” ujarnya sambil menyodorkan satu kantong plastik kecil berwarna pink kepadaku. Dengan ragu aku menerima kantong plastik tersebut. 'Isinya kertas apa ya?' batiknku bertanya. "Terimakasih" ujar Ibu Madam tersenyum ramah namun menyiratkan banyak arti.</div><div><p class="MsoNormal">Aku segera melangkah keluar toko tersebut, begitu sudah di luar, aku menoleh ke belakang dan memperhatikan 'Madam' yang terpajang tepat diatas kepalaku. Aku berbalik memperhatikan kantong plastik yang kupegang, rasa penasaran yang tidak terbendung lagi akhirnya memaksaku untuk membuka kantong plastik tersebut. Hingga aku mengeluarkan secarik kertas yang tadi Ibu Madam tersebut selipkan. </div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal">                                                                                                Instruksi</div><div><p class="MsoNormal">1. Jangan membuka secarik kertas ini , apabila sudah membukanya, pastikan anda sudah dirumah.</div><div><p class="MsoNormal">- Wah, aku disini, gimana dong? -</div><div><p class="MsoNormal">2. Buka tutup pewarna kuku ini...</div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal">Seketika kertas yang kupegang ini tertiup angin dengan kencang. Aku berusaha mengejar kertas tersebut, namun tiba-tiba hujan turun begitu deras...</div><div><p class="MsoNormal">Ah apa yang harus kulakukan? Aku menoleh ke belakang, untuk meminta kembali kertas instruksi tersebut. Tapi </div><div><p class="MsoNormal">yang kudapati hanyalah toko kosong yang terbengkalai. Tunggu... kemana toko tersebut?</div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal">Bersambung...</div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal"></div><div><p class="MsoNormal"></div><div><ul><li></li></ul><p class="MsoNormal"><o:p></o:p></div>