Posted by Yonazi • 13-11-2018 21:53

Beloved




Kejadian itu akan selalu melekat dipikiranmu.
Sebanyak apapun kamu meminum alkohol, kamu tidak akan bisa melupakannya.

Saat siang hari sedikit mendung, kamu terlibat cekcok dengan istrimu.
Kamu memutuskan untuk mengambil kunci dan segera pergi meninggalkan rumah.

Ditengah perjalanan kamu merasa sangat haus, kamu berhenti disebuah mini market demi membeli sebotol mineral.

Kamu tidak sengaja menengok ke arah seberang jalan dan mendapati sesosok gadis berkulit putih yang mengenakan gaun seperti pengantin berdiri sendirian disana sambil menangis.

Entah kenapa nalurimu berkata harus menghampirinya.

Kini kamu berada disebelah gadis itu mencoba mencari kata untuk menyapa. tapi sebelum kamu mengangkat rahang, gadis itu lebih dulu menyapamu.
Tentu kamu sedikit kaget dan segera mencari kata lain untuk membalasnya.

Cuaca makin tidak bersahabat, memandang gadis itu tentu kamu tidak akan meninggalkannya sendirian dijalan berdiri sendiri kedinginan didaerah yang sangat sepi, jadi kamu putuskan berbaik hati mengundang gadis itu ke dalam mobilmu.

Benar dugaanmu gadis itu lari dari pelaminan karena suatu perjodohan konyol yang tidak dia sukai. dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah mencintai pria pilihan orang tuanya sampai kapanpun.
Kamu cukup mendengarkan curhatannya saja dan sesekali mencoba menenangkan gadis itu dengan sedikit humor.

Hujan mulai turun, saat ini kamu mengendarai mobil tanpa tujuan, sepertinya gadis itupun juga sama jadi percuma saja bertanya.

Gadis itu terus memandangimu sambil tersenyum, matanya berwarna biru seperti lautan
air matanya perlahan pupus dari wajah jelitanya menandakan kalau dirinya sudah tenang.

Matahari perlahan terbenam, kamu menawarkan gadis itu untuk bermalam dipenginapan pinggiran kota, tentu itu bukan ide yang bagus tapi dia setuju.

Dimeja resepsionis kamu dibuat resah oleh penjaga hotel karena dia tiada hentinya memandangi gadis yang akan kamu ajak menginap itu. Sepertinya hotel ini hanya mengizinkan pasangan suami-istri saja.
Kamu mencari alasan kalau baru saja menikah dan berencana untuk bulan madu dihotel.
Alasanmu berhasil Kunci kamar didapatkan. Sepertinya hari ini adalah harimu.

Hujan tambah deras disertai langit yang semakin gelap, untung saja kamu sudah dihotel.
Istrimu mulai menelpon tapi kamu enggan mengangkatnya. Rasa cintamu telah berpindah ke gadis yang kamu temui.

Tiba-tiba gadis itu memelukmu dari belakang mengucapkan banyak kata terima kasih karena telah membantunya hari ini. Wangi yang dipancarkannya sangat khas bak bunga yang baru mekar.

Dering ponselmu tidak pernah berhenti, istrimu tidak putus asa menelponimu terus tapi kau tetap acuh dan lebih memilih menemani gadis itu ketimbang meladeni ocehan istrimu.

Tak lama setelah dering berakhir ada pesan masuk dari istrimu kau sedikit penasaran dengan isi pesan tersebut lalu membacanya.

Sekarang ponsel melekat dikupingmu, serangan panik mulai menyerang batinmu.
Badanmu mulai bergetar, keringat membanjiri seluruh tubuhmu, dan kaki terasa mengeras.

Gadis dibelakangmu menanyakan keadaanmu karena kamu terlihat amat cemas tapi mulutmu sulit untuk terbuka. Kamu terus menempelkan ponsel ke telinga fokus menyimak setiap kata yang terlontar dari lubang-lubang kecil diponsel, tanganmu yang satunya meraih remote dan mulai menyalakan tv.
Channel satu menayangkan berita mengenai kematian tragis seorang wanita yang bunuh diri, melompat dari atas gedung pencakar langit hingga tubuhnya remuk.

Tanpa pikir panjang Kamu bergegas lari menuju mobil dan memacunya secepat mungkin.

Kamu berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.
Kamu berharap kalau waktu bisa terulang kembali.

Sayang sekali harapan hanya angan tapi rasa takut itu nyata.

Kamu mulai mencium aroma bunga didalam mobil, wangi yang pernah kamu cium belum lama ini. Seketika kamu baru sadar kalau aroma yang kamu endus itu adalah aroma bunga dari pemakaman.
Disaat keheningan menyiksa, terdengar bunyi ponsel berdering, kali ini benar-benar telepon dari istrimu. Kamu mencoba meraihnya disamping jok tapi yang kamu temukan bukanlah ponsel melainkan gaun wanita yang berlumuran darah.

Jantungmu berhenti berdetak beberapa detik.

Kamu yakin sekali, kalau saat ini dia ada disini, didalam mobil ini sedang melotot ke arah mu dan tersenyum. Badannya hancur tidak karuan seperti tangan yang terpelintir, kepalanya terbalik, dan beberapa tulang menonjol merobek kulit.

Bisikan-bisikan halus menutupi telinga.

Kamu mulai menangis histeris.

Setibanya dirumah kamu langsung mendobrak pintu berlari mencari sang istri lalu memeluknya sangat erat.Istrimu kebingungan dengan tingkahmu yang aneh itu tapi kamu hanya memeluknya dan tidak ada hentinya meminta maaf.

Kamu benar-benar bersyukur bisa mempunyai istri yang tulus mencintaimu dan kamu sangat bersyukur menuliskan nomer ponselmu dibuku tamu hotel.