Posted by sixth_sense • 15-10-2015 21:52

Monkey Dream




Catatan penerjemah (dikutip langsung
dari web Okaruto): Ini adalah J-
creepypasta yang populer. Aku tak begitu mempercayainya, namun beberapa orang. benar-benar mengalami hal aneh setelah
membacanya. Paling tidak itu yang
kubaca di beberapa comment.

Aku bermimpi. Sejak kecil, kadangkala
aku bisa menyadari bahwa aku sedang bermimpi. Kau tahu, hal itu disebut lucid dream. Mimpi ini adalah salah satu dari mimpi-mimpi itu.

Suatu saat, entah untuk alasan apa, aku berada di sebuah stasiun kereta yang gelap, sendirian. Ini adalah mimpi yang sangat kelam,
kataku pada diri sendiri.

Tiba-tiba aku mendengar suara seorang pria dari speaker pengumuman. Entah mengapa, aku merasa suara itu keluar dari orang yang tak lagi bernyawa.

“Kereta akan datang sebentar lagi. Jika anda menaikinya, anda akan mengetahui seperti apa rasa takut yang sesungguhnya.”

Mengikuti suara pengumuman itu, sebuah kereta tiba di stasiun tersebut.
Menyebutnya sebuah kereta mungkin
terlalu berlebihan. Benda itu lebih mirip sebuah kendaraan karnaval.

Kereta ini seperti kereta yang biasa ada di pasar malam dan dihias dengan gambar-gambar monyet [di Indonesia ini mungkin dikenal dengan sebutan kereta kelinci]. Ada beberapa orang yang tampak pucat duduk di dalamnya.

Benar-benar mimpi yang aneh, pikirku. Tapi aku hanya ingin melihat seberapa menakutkan mimpi ini, jadi aku memutuskan naik kereta itu.

Jika aku terlalu takut nantinya, aku bisa membangunkan diriku sendiri. Toh ini lucid dream kan, mimpi yang kita sadari?
Aku bisa memaksa diriku sendiri untuk bangun dari mimpi ini.

Aku duduk di kursi ketiga dari belakang. Udara yang kurasakan hangat, namun sama sekali tak nyaman.

Suasana yang kurasakan sangatlah realistis sehingga aku sempat berpikir, apakah aku benar-benar bermimpi ataukah ini nyata?

“Sekarang kereta akan berangkat.”
Terdengar suara pengumuman dan
keretapun mulai bergerak.

Hatiku berdebar penuh antisipasi dan juga kegelisahan ketika aku membayangkan apa yang mungkin akan terjadi.

Segera setelah kereta meninggalkan peron, kami memasuki sebuah terowongan. Cahaya ungu yang menakutkan menerangi
terowongan.

Aku pernah melihat terowongan ini
sebelumnya Aku ingat. Ini adalah
terowongan dari rumah hantu yang ada di taman bermain yang sering aku
kunjungi saat kecil. Aku pasti sedang
memimpikan kereta monyet dan rumah hantu yang kerap kukunjungi saat itu. Ah, tak ada yang perlu ditakutkan kalau begitu.

Pengumuman lain terdengar menggema di udara,

“Berikutnya adalah ikizukuri
Ikizukuri”

Ikizukuri? Bukankah itu makanan Jepang dimana ikan diiris dan disajikan mentah hidup-hidup?

Entah darimana, aku mendengar suara
jeritan yang memekakkan telinga dari
belakangku. Aku menoleh dan melihat
empat orang cebol memegangi pria yang duduk di bangku terakhir.

Setelah aku mencoba melihat lebih seksama, pria itu sedang dipotong-potong dengan pisau dan disiapkan seperti ikizukuri.

Aroma darah segera mengalir di udara
dan pria malang itu terus menjerit
kesakitan. Organ-organ dalamnya diburai keluar satu demi satu dan berceceran dimana-mana.

Tepat di belakangku adalah seorang
wanita berambut panjang yang terlihat pucat. Dia panik untuk beberapa saat, namun segera wajahnya menjadi tenang, seolah tak terjadi apa-apa.

Aku sangat shock melihat kengerian tak terbayangkan yang terjadi di hadapanku.

Aku mulai merasa benar-benar takut dan meragukan apakah ini sesungguhnya benar mimpi. Aku memutuskan untuk menunggu sejenak lagi sebelum aku membangunkan diriku sendiri.

Segera aku menyadari, pria yang duduk di belakangnya sudah tak ada lagi. Namun darah dan potongan-potongan dagingnya masih tersisa.

Sementara wanita yang ada di belakangku masih menatap hampa ke arah depanku.

“Berikutnya adalah dicungkil.” Terdengar suara pengumuman ,

“Dicungkil.”

Kali ini, dua dari orang-orang kerdil itu
muncul dengan membawa sendok
dengan tepi bergerigi. Mereka mulai
mencungkil keluar mata dari wanita yang duduk di belakangku.

Segera wajah tanpa ekspresinya lenyap, digantikan dengan suara tangisan yang hampir merobek gendang telingaku. Bola
matanya terlempar begitu saja dan bau darah yang sangat menyengat tercium tak tertahankan.

Aku mulai gemetar ditelan rasa takut. Aku menolehkan pandanganku kembali ke depan dan tahu, inilah saatnya. Aku tak mampu menahannya lebih lama lagi.

Ditambah lagi, sesuai dengan urutan
tempat duduk, akulah yang akan menjadi korban berikutnya.

Aku hendak membangunkan diriku
sendiri, namun rasa penasaran tetap saja berkecamuk. Aku ingin tahu,
pengumuman apalagi yang akan
diberikan selanjutnya.

“Digiling berikutnya,”
pengumuman itu datang ,

“Digiling.”

Sial Mudah untuk membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku berkonsentrasi sekuat mungkin dan mencoba membangunkan diriku sendiri.

Ini hanya mimpi Bangunlah Bangunlah
Aku selalu mengulang-ulang kata-kata itu apabila aku ingin bangun dari
mimpiku dan itu selalu berhasil.

Tiba-tiba aku mendengar suara
“Whiiiiiirrrrr” yang keras, seperti suara
mesin.

Kali ini seorang cebol duduk di
bawahku sambil memegang sebuah alat penjepit yang sangat aneh. Aku hanya bisa berasumsi bahwa itu adalah sejenis alat pencincang dari besi.

Rasa takutku pun makin meningkat.
Ini hanya mimpi Bangunlah Bangunlah
Aku menutup mataku dan berdoa dengan segenap hati.

“Whiiiiiiiiiiiirrrrrrrr ...” suara tersebut
bertambah keras dan keras. Aku dapat
merasakan hembusan angin dari mesin yang berada tepat di wajahku.
Aku yakin aku akan mati.

Kemudian tiba-tiba suasana menjadi
sunyi. Aku lepas dari mimpi buruk itu. Aku terbangun di tempat tidur, bermandikan keringat. Air mataku pun jatuh.

Aku bangun dari kasur dan pergi ke
dapur untuk mendapatkan segelas air
minum. Aku mencoba menenangkan
diriku.

Apa yang aku alami barusan terasa
sangat nyata, mengerikan. Namun aku
meyakinkan diriku bahwa itu hanya
mimpi. Hanya mimpi.

Hari berikutnya, aku menceritakan mimpi tersebut pada teman-temanku di sekolah. Namun mereka semua berpikir itu adalah hal yang lucu.
Sebab bagaimanapun, itu hanya sebuah mimpi.

Empat tahun kemudian, saat aku kuliah, aku benar-benar melupakan mimpi itu.

Hingga satu malam ketika aku tengah
bekerja, semua kembali dimulai.

“Berikutnya adalah dicungkil.” Terdengar suara pengumuman,

“Dicungkil.”

Mimpi itu sama, semuanya mengalir
kembali ke ingatanku.
Kemudian dua orang cebol yang sama
mencungkil keluar mata gadis tanpa
ekspresi itu.

Sial Ini hanya mimpi Bangunlah
Bangunlah Namun aku tak mampu bangun.

“Berikutnya adalah digiling. Digiling.”
Tidak, ini terlalu ...

“Whiiiiiiiirrrrrrr...” suara itu makin
mendekat. Ini hanya mimpi Kumohon bangunlah

Kemudian sunyi.
Berpikir aku telah lolos, akupun
membuka mataku.
“Apa kau akan melarikan diri lagi?” suara pengumuman memanggilku,

“Lain kali ketika kami datang kembali mencarimu, itu akan menjadi yang terakhir”

Aku membuka mataku dan kali ini aku
benar-benar terbangun. Suara
pengumuman yang kudengar barusan
jelas bukan bagian dari mimpi. Aku
mendengarnya di sini, di dunia nyata.
Aku tahu.

Apa yang telah terjadi?
Aku belum pernah memimpikan mimpi itu sejak saat itu, namun aku percaya ketika hal itu terjadi lagi, aku akan mati akibat serangan jantung.

Well, di alam ini mungkin aku akan mati karena serangan jantung. Namun di alam mimpi, mungkin karena alat pencincang itu.
profile picture
kunaikun , Kripiker
15-10-2015 22:11
Great Urban Legend
mungkin ter-horror d antara lucid dream yg pernah ada
profile picture
FridayThe13 , Kripiker
15-10-2015 22:15
karena masuknya lucid dream..
hancurin aja keretanya