Posted by anakkos • 09-07-2016 15:47 • bekasi, Jawa Barat

Bau kentang di tempat angker




Cerita ini nyata, namun tidak ada unsur penampakan. Bukan ditujukan untuk menjelek-jelekan tempat tinggal, hanya berbagi pengalaman. Lokasi saya samarkan

Jam menunjukan pukul 7.30

Cerita ini terjadi pada hari senin sebelum lebaran. Saya suka olahraga lari, kalau tidak bisa dilakukan pagi, saya biasa lari di waktu malam. Pada senin malam lebih tepatnya, kebetulan waktu itu masih bulan puasa dan saya selalu lari pada sore hari atau malam hari. Sebenarnya selama bulan puasa saya suka berlari sambil ngabuburit pada sore hari. Hanya sekali pada malam itu saya berlari setelah waktu maghrib. Saya keluar rumah dan mulai berlari di sekitar perumahan. Di sekitar perumahan saya ada track panjang yang biasa buat jogging, track panjang itu pun terputus oleh sebuah portal, tanda batas perumahan berakhir. Di sebelah portal ada perumahan lain yang sebenarnya bukan bagian dari perumahan saya, namun saya tetap berlari menuju kesana.

Perumahan ini memang terkesan lebih elit dan sepi, tidak banyak orang-orang yang tampak disini, apalagi kalau malam. Biasanya di sebelah portal tadi ada pos siskamling yang ditinggali satu hansip, namun pada malam itu tidak ada siapapun, sepi dan sunyi. Saya tetap berlari karena saya tidak begitu peduli dengan keadaan sepi yang secara tak kasat mata cukup membuat bulu kuduk berdiri ini. 10 Meter kemudian, saya melihat kebun yang luas di sebelah kiri saya. Cukup luas dengan dibatasi dengan pagar tinggi dan tanpa pintu masuk, di dalam kebun hanya ada beberapa pohon tinggi yang usianya yang tua, seperti pohon mangga, pohon palem, pohon jambu dan sebagainya. Dilihat dari kondisinya, terlihat kebun tua itu tidak pernah dimasuki siapapun, hanya untuk penghijauan saja. Saya melihatnya dengan sedikit merinding karena saya berlari cukup dekat dengan lokasi kebun itu. Namun saya tetap tenang dan berusaha fokus dengan track jalanan yang diaspal cukup rapih dan tebal di perumahan elit ini. Selain itu, musik yang saya dengarkan cukup membuat saya rileks dan dapat membantu saya mengurangi memikirkan hal yang macam-macam. Namun sejak pertama kali kaki saya menginjakan perumahan ini, saya belum pernah bertemu dengan satu orang pun dan belum melihat ada yang melintas disini sekalipun. Sangat sepi memang. Terlebih lagi, ini bulan puasa dan musim liburan, orang-orang cenderung tidak keluar rumah setelah berbuka dan menunggu hingga sahur tiba. Pada dasarnya tipikal orang yang tinggal di komplek elit seperti ini memang jarang keluar rumah. Ditambah lagi waktu itu dua hari lagi menjelang lebaran, mungkin orang-orang sudah mudik atau pergi mengunjungi tempat keluarganya. Klasik.

Jam menunjukan pukul 9.30 PM dan saya sampai pada ujung jalan perumahan yang dibatasi oleh portal lainnya. Karena jalan yang ada di sebelah portal akan membawa saya ke jalan raya, saya memutuskan untuk mengambil jalan memutar menuju gang yang agak sempit dan berlari kembali menuju arah sebaliknya melalui jalur bagian dalam perumahan ini. Tak lama kemudian, saya akhirnya saya bertemu kembali dengan perumahan saya dan saya memutuskan untuk mengambil rute yang biasanya tidak saya lalui. Ya, waktu itu saya mengambil rute jalan yang benar-benar sepi dan angker di perumahan tersebut.

Hal yang membuat saya tertarik untuk mengambil rute jalan itu adalah karena saya melihat ada perubahan yang cukup berbeda dari tempat itu yang sudah sekian lama saya tidak pernah lintasi. Saya pun berbelok ke kanan dan mulai melintasi gang yang dapat dibilang yang paling angker di perumahan ini. Di awal portal saya melihat ada perubahan, mulai dari dipangkasnya pohon mangga besar menjadi berukuran kecil di sebelah kanan portal dan menghilangnya warung kecil yang berada di bawah pohon itu. Biasanya dulu saya cukup malas untuk melewati portal itu karena tempatnya yang memang sepi, terutama apabila hari sudah gelap. Dan seperti yang saya duga, suasana gang ini sangat sepi dan angker, di sebelah kanan saya terdapat pohon bambu yang berbaris di tepi sebuah kali. Dari sini saja pemandangan angker sudah sangat kental, karena pohon bambu kata orang adalah tempat favorit para makhluk halus.

Di sebelah kiri saya terdapat rumah warga yang besar-besar namun tidak begitu padat, karena ada beberapa tanah yang masih kosong di antara rumah tersebut, selain itu ada rumah kosong yang terlihat cukup tua, dengan kondisinya yang cukup mengenaskan, mulai dari kondisi rusak, cat yang mengelupas dan pohon-pohon dan tumbuhan mulai tumbuh tinggi menjalar di dalam dan halaman rumah tersebut. Dari kondisinya bisa diperkirakan rumah itu mungkin sudah ditinggalkan dari tahun 80-90an. Ada sekitar satu dan dua rumah yang memiliki kondisi seperti itu. Jangan harap memandang pemandangan angker seperti itu lama-lama, 5 detik pertama saja saya sudah buang muka. Saya juga tidak mau pingsan lantaran sawan karena melihat yang aneh-aneh. Terlebih lagi pingsan di tempat seperti ini, bukan ditolong manusia, tapi hanya akan dijahili penunggu di daerah sini. Di depan rumah kosong dan kebun yang angker di sebelah kiri saya itu, terdapat mobil tua dengan merk honda civic tahun 1980-an yang kondisinya juga tak kalah parah, kelihatannya sudah lebih dari 20 tahun tidak bergerak. Ban yang sudah bocor, cat mengelupas, dan body mobil yang diselimuti debu tebal. Dari kaca yang sudah buram karena debu dan kondisi pergantian cuaca, saya masih bisa melihat interior dalam mobil tersebut. Sekilas saya seperti melihat bayangan orang sedang duduk di kursi belakang. Siapa itu? Ah, sepertinya hanya halusinasi saya saja. Apa rumah kosong tua dengan mobil tersebut ada hubungannya? Entahlah. "Don't look back in anger" dari Oasis cukup membuat saya tetap tenang di tengah kesunyian tersebut sambil terus jogging tanpa henti. Yang lebih penting lagi, lagu itu mengisyaratkan saya untuk tidak melihat ke belakang walaupun dalam pengertian yang berbeda. 2 Meter kemudian saya tiba pada pemandangan paling buram dan angker yang pernah saya lihat semenjak saya keluar rumah. Di sebelah kiri saya, saya bertemu dengan kebun yang cukup luas dengan penuh dengan pohon dan tumbuhan liar yang lebat. Dengan pemandangan yang super angker, entah karena refleks atau tubuh saya yang merinding, sontak saya mengurangi kecepatan saya, dan berlari agak lambat, bahkan hampir berjalan. Saya melihat lahan kosong ini agak berbeda dari tempat-tempat yang sebelumnya saya lewati. Lebih gelap, lebih angker, lebih luas, bahkan kalau diibaratkan sedang memasuki sebuah istana, lahan ini adalah singgasana-nya. Atau saya perjelas dengan kalimat, "singgasana"-nya "mereka". Saya sudah sangat merinding saat memikirkan itu. Kalau diartikan singgasana, itu berarti ada "raja"-nya. Di tengah kebun itu ada pohon yang cukup besar berdiri di antara pepohonan dengan dahannya yang lebat menjuntai ke atas jalanan seolah menaungi mereka yang berjalan di bawahnya. Dan berada di bawah naungan pohon itu rasanya sangat tidak menyenangkan, seolah ada kekuatan jahat yang sudah melampaui pengetahuan saya sedang melihat dari kegelapan. Sebelum saya kembali berlari, saya mencium bau aneh yang sudah tidak asing di hidung, yaitu bau kentang. Entah berasal darimana, bau itu sangat menyengat dan sangat mengganggu. Sejenak saya berpikir positif, Apakah orang-orang kaya disini habis berbuka puasa dengan Kfc? Mungkin saja begitu, mungkin saja tidak. Bau kentang disini lebih berbeda, lebih mirip bau rebusan kentang. Sampai saya pernah ingat kata teman saya yang mengerti dunia ghaib kalau bau kentang berarti tanda makhluk halus ada di sekitar kita. Dengan bau kentang yang berada di tempat yang angker, saya jadi tidak punya pilihan selain mempercayainya. Dan setelah ingat itu, saya seperti disetrum listrik, cepat-cepat saya buang muka dari pemandangan itu, dan melanjutkan berlari lurus menuju tempat yang sedikit lebih terang. Jam menunjukan pukul 10.15, dan akhirnya saya sampai juga di rumah.
yomadeet , Kripik Writer
11-07-2016 05:50
Panjang juga ceritanya kakak...

Lumayan serem walaupun ga ada wujud makhluk halusnya
Baby , Silent reader
03-04-2019 09:27
Kaga cape ngetik gan?