Posted by haru • 21-08-2016 08:16 • Jakarta utara, Jakarta

Lonely Sena




Aku adalah Senaly, orang-orang memanggilku Sena. Aku adalah anak dari seorang pemimpin perdagangan di daerah sini. Bisnis kedua orang tuaku sangat besar dan berjalan lancar, ayah ku bahkan berencana mengembangkan usahanya ke bidang jasa angkutan. Aku dan ibu pun turut senang mendengar rencana ayah. Aku adalah anak tunggal jadi ayah dan ibu sangat mencintaiku, memanjakan ku dan jujur saja aku sangat bahagia berada di keluargaku ini.
Ayah mulai melakukan koneksi ke beberapa temannya tentang perluasan usahanya itu, namun sayang semua tidak berjalan sesuai rencana. Salah satu saingan ayah men-sabotase usaha ayah. Semakin lama usaha ayah mengalami penurunan dan semakin banyak saingan yang muncul membuat karir gemilang ayah menjadi kenangan yang menyakitkan. Keluarga kami pun jatuh miskin, kami menjual segala harta benda dan rumah kami untuk menutupi hutang - hutang ayah.
Kami pun pindah ke sebuah rumah kecil dipinggir desa. Yah, rumah itu memang kecil, tapi aku yakin jika bersama ayah dan ibu, semua akan baik-baik saja. Atau kukira itu yang akan terjadi. Usaha ayah yang sedari lama ia rintis tiba-tiba saja jatuh bebas, membuat ayah pun menjadi orang yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi sosok ayah yang ramah dan ceria, hanya ada seorang pria tua yang lebih memilih berdiam diri dirumah, melamun, kasar dan suka mabuk. Sekarang ayah lebih suka melakukan kekerasan pada ibu, bahkan padaku.
Mendapat perlakuan seperti itu, ibu pun tidak dapat menahannya dan memilih untuk melarikan diri dari rumah, meninggalkan aku dan ayah. Aku sangat sedih melihat kenyataan tersebut, tapi sebagai anak, aku juga tidak bisa meninggalkan ayah sendirian. Aku pun belajar masak, mencuci, melakukan pekerjaan rumah, membuat kopi dan bekerja sambilan. Walaupun mengetahui hal tersebut, ayah sama sekali tidak berkata apapun dan tidak peduli.
Setiap hari aku pasti dipukulinya. Ada saja hal yang membuatnya kesal dan memukul ku, memaki ku, dan menendangku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini dan berharap ini hanya mimpi buruk, dan suatu hari ayah ku yang dulu akan kembali.
2 tahun pun berlalu dan 2 tahun yang berisi dengan penyiksaan yang ayah lakukan hanya bisa ku pendam sendiri. Sekarang ayah mulai sakit-sakitan, setiap kali dia kesakitan di sofa, aku selalu membopong tubuhnya ke kamar. Dan sebagai balasan dia akan menendangku atau setidaknya memaki atau menamparku. Haha.. aku sudah terbiasa. Hari ini ayah memanggil ku dari sofa lagi, namun kali ini aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku pun berkata
“Apa yang sakit yah? Apa ayah mau makan sesuatu? Ayo yah kuantar ke kamar.”
Sembari berjalan ia hanya terus meracau tidak jelas. Sesampainya dikamar, aku pun membaringkan ayah di kasur. Saat ingin mengambil air, ayah pun berteriak “DASAR JALANG KOTOR..TOLOLL..ANAK TOLOL”. Aku pun berbalik menghadap ayah dan duduk tepat dihadapannya. Aku hanya bisa mengelus tangan ayah dan kubilang padanya.
“Yah..kenapa ayah berbicara begitu? Apakah ayah tidak tau perasaan seorang anak saat ayahnya sendiri berbicara begitu. Selama ini ayah terus menyiksaku, tapi apakah ayah tau bagaimana sakitnya itu? Ya, ayah tidak tau. Bahkan sekarang ayah tidak bisa apa-apakan? Ayah tau setiap kopi yang telah kubuatkan untukmu sudah ku teteskan beberapa tetes etanol, setiap makanan yang kau makan sudah kucampur dengan racun pelemah syaraf. Ayah tau sejak kapan aku melakukan itu semua? Aku melakukannya dari setahun yang lalu yah. Ayah kira selama ini aku diam? Tidak ayah. Ayah ingat dulu saat aku dibully oleh temanku dan selalu pulang dengan luka, ayah selalu mengajarkan padaku kan, dalam dunia ini jika kau disakiti kau boleh membalasnya setimpal dengan yang ia lakukan. Kata-kata itu terus membekas di ingatan ku. Beberapa bulan setelah ayah berkata begitu, aku pun menyesatkannya di hutan yang terdapat banyak anjing liar, lalu aku muncul sebagai pahlawan dan menawarinya cemilan yang sudah kucampur dengan ramuan perusak wajah. Ayah tau, efeknya cepat sekali, dalam 3 hari wajahnya sudah penuh luka, nanah dan berbau busuk, 2 minggu kemudian ia dilaporkan telah bunuh diri. Aku tidak membunuhnya lho yah... Sekarang aku pun melakukannya pada ayah. Aku lakukan sesuai nasehat ayah dulu. Aku anak pintar kan yah... Aku pernah berpikir untuk membunuhmu, tapi kau adalah ayahku satu-satunya, terlebih lagi jika kau mati kau tidak akan merasakan rasa sakit dan penderitaan seperti yang kurasakan selama ini. Sekarang kau dan aku akan hidup damai seperti dulu. Selama ada aku, kau tidak akan mati dengan mudah.”
Ayah pun lumpuh dan aku selalu “merawatnya”. Hingga ayah dijemput ajal, aku dan ayah bahagia. Namun saat ayah meninggal, aku merasa kesepian. Apa ada yang mau menemani hidupku? Mungkin kau boleh juga...


Terima kasih telah membaca cerita aneh buatan saya...
Salam kripik
profile picture
Hantu.chikal , Kripiker
18-09-2016 14:40
Gamau min takut
domble , Silent reader
03-11-2016 16:48
Pasti deh, sena ini cakep putih rambutnya panjang, kalem, lembut, wujud dd yg sempurna.. hahahahaa :^

Tapi serem jg kl dibalik paras indahnya, sifatnya ky gt