Posted by BerylYuan • 22-11-2018 05:50 • Sukabumi, Jawa Barat

Batu Genderuwo




"Nenek mau mati." ujar Nenekku saat kutengok dia di rumahnya yang hanya berupa bangunan semi - permanen dekat perkebunan di sebuah desa kecil yang agak jauh dari keramaian.

Aku shock mendengarnya, otomatis kuhampiri wanita renta berusia hampir 80 tahun itu perlahan.

Nenek tinggal sendirian setelah semua anaknya bekerja dan berkeluarga di kota, sementara Kakek sudah meninggal kira - kira delapan tahun yang lalu. Setiap akhir pekan anak - anak Nenek bergantian menengoki keadaannya, tapi kebetulan minggu ini orang tuaku tidak bisa datang karena ada acara pernikahan teman mereka. Akhirnya akupun diminta untuk menggantikan orang tuaku menemani Nenek. Hari ini hanya ada kami berdua.

Sebagai seorang gadis berumur 18 tahun, aku merupakan cucu perempuan kesayangan Nenek. Aku tahu Nenek paling senang jika aku datang ke rumahnya, tapi tetap saja banyak kesibukan yang membuatku jarang melakukan hal tersebut.

"Nek, jangan bicara yang bukan - bukan, ah. Nenek kan sehat, tidak sakit." kataku sambil tersenyum.

"Ini hari yang tepat untuk mati," jawab Nenek lagi. Suaranya setengah meracau, tapi matanya yang biasanya agak gemetar kini menatapku mantap, "kamu sudah datang."

Alisku mengkerut bingung.

"Kenapa baru sekarang kamu datang, cucuku?"

"Maaf, ya Nek. Akhir - akhir ini aku memang sibuk sekali kuliah, banyak tugas." aku sedikit terenyuh, apa sebegitu rindunya Nenek padaku sampai - sampai menganggap dirinya tidak bisa beristirahat dengan tenang sebelum bertemu denganku?

"Tidak apa - apa, sekarang kamu sudah datang. Nenek bisa mati."

"Nek Sudah, ah, jangan bicara mati - mati..." suaraku mulai resah.

Tiba - tiba saja Nenek mengeluarkan sebuah batu hitam kecil dari kantong kebayanya. Sekilas batu itu tampak seperti batu biasa yang sering kutemukan di jalan, tapi aku menyadari ada kilau aneh yang samar - samar berpendar dari batu tersebut.

"Nenek sudah ingin mati sejak bulan - bulan lalu, tapi tidak bisa karena batu ini menahan Nenek."

Aku tidak segera menjawab, arah pembicaraan ini mulai aneh. Dan kupikir ini pastilah pengaruh dari otak tua Nenek yang mulai kacau.

"Kamu tahu batu apa, ini?" tanyanya, "ini namanya batu Genderuwo. Batu pemanggil setan Genderuwo supaya bisa nurut pada kita."

Seketika bulu kudukku meremang. Mendengar kata Genderuwo yang muncul di kepalaku adalah bayangan makhluk seram berwarna hitam, tinggi besar, berbulu lebat, bermata merah, dan bergigi tajam.

"Batu ini kugunakan untuk menjagamu."

"Maksud Nenek?"

"Aku memerintahkan Genderuwo yang ada di batu ini untuk selalu mengawasi dan menjagamu sepanjang hari,"

Sebuah sensasi dingin menakutkan merambat ke seluruh punggungku begitu mendengar perkataan Nenek. Obrolan ini sudah terlalu jauh, rasanya aku ingin mengganti topik, tapi Nenek tetap melanjutkan.

"Saat aku mau mati, Genderuwo di dalam sini tidak mau melepaskanku. Dia suka padamu, dia ingin batu ini diturunkan padamu dan menjagamu selamanya."

"Nenek hentikan" seruku, "Membuat perjanjian dengan setan itu dosa. Nenek jangan membicarakan hal seperti itu."

"Tapi Nenek sudah melakukannya, karena Nenek sayang padamu.Terimakasih kamu datang hari ini, ya? Akhirnya Nenek bisa memberikan batu ini."

"Tidak Hentikan" kataku takut sekaligus kesal, ini pasti bukan sungguhan.

Akupun segera berlari keluar menelepon orang tuaku. Aku ingin menjauh dari Nenek, salah Nenek sendiri karena sudah menakutiku.

"Ma, aku mau pulang sekarang. Ada urusan mendadak, setelah dari pesta teman langsung saja ke rumah Nenek, ya." kututup telepon sebelum Mamaku protes.

Nenek memanggil - manggil namaku dari dalam rumah tapi tak kuindahkan. Segera kuambil motorku, dan kupacu meninggalkan rumah Nenek. Toh, dia tidak sendirian, selalu ada tetangganya yang siap membantu jika terjadi sesuatu. Aku terlalu merasa tak nyaman saat ini.

Begitu motorku tiba di sebuah perempatan, aku berhenti untuk mempersilahkan kendaraan lain lewat. Tiba - tiba saja ponselku berdering nyaring.

"Hallo?" sapaku menjawab telepon.

"Hallo, Neng. Ini Mang Kusman."

Aku mengernyit, Mang Kusman adalah salah satu tetangga Nenekku.

"Ini Nenek tiba - tiba jatuh di depan rumah, gak sadar.Nengdimana? Tolong bilangin sama Mama - Papa, Neng."

Hatiku langsung mencelos tak karuan, kututup telepon tanpa menjawab. Sebuah penyesalan menyusup.

Betapa bodohnya aku, meninggalkan Nenek cuma karena cerita seram yang belum tentu benar. Nenek sudah sangat tua, pasti dia cerita cuma untuk menakutiku.

Kuselipkan lagi ponsel ke dalam saku celana.
Namun betapa gemetarnya tanganku saat aku menyentuh sesuatu yang belum pernah kupegang di sana sebelumnya.

Sebuah batu kecil berwarna hitam yang bependar berkilauan. Sekilas kulihat pantulan wajah Nenekku tersenyum di permukaannya.

TAMAT

BerylYuan , Silent reader
23-11-2018 00:26
Cerita ini berdasarkan kisah nyata