Posted by Andrie07 • 20-11-2019 12:43 • Surabaya, Jawa Timur

TEMAN




Namaku Erneth. Aku tinggal di Bandung, namun aku akan pindah hari ini. Ayahku bilang, dia punya pekerjaan di Surabaya. Saat aku bertanya kita akan menginap dimana, ayah hanya bilang, "Di sebuah rumah peninggalan," hanya itu.

Ibuku memanggilku, ah, sudah waktunya kami berangkat. Aku turun dari kamarku yang berada di lantai dua. Ini perpisahan yang menyedihkan. Dengan rumah ini, maupun dengan teman-temanku.

Sudah berjam-jam kami di pesawat, akhirnya kami sampai di Surabaya dan 'rumah peninggalan sementara' itu.

Aku berjalan menyusuri koridor rumah itu, luas dan sepi. Rumah itu bergaya Belanda dan nampak usianya sudah berpuluh-puluh tahun.

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari arah belakang rumah. Aku ketakutan, bulu kudukku merinding. Namun aku sangat penasaran, akupun berlari kecil mencari asal suara itu.

Pandanganku seketika buram, mataku panas dan mulai berair. Bagaimana tidak? Kulihat ayah dan ibuku tersungkur ke lantai dengan keadaan yang begitu mengenaskan.

Ayahku mengeluarkan banyak darah di bagian lehernya, kulihat lehernya hampir putus. Sementara ibuku, ah, kepalanya entah hilang kemana.

Samar-samar kulihat laki-laki membawa belati datang dengan santainya. Awalnya aku ingin meminta tolong, sebelum kulihat dia membawa serta kepala ibuku.

Penglihatanku semakin buram, saat lelaki itu mendekat, aku hanya bisa pasrah.

"Sraaatt" darah memenuhi pakaianku. Namun itu bukan darahku, itu darah laki-laki itu. Ingatkah kalian saat aku bilang 'sudah waktunya kami berangkat?', ya, saat itu aku tidak benar-benar kehilangan semua temanku. Salah satu dari mereka ikut denganku. Dia selalu ikut kemanapun aku pergi.

Sekarang dia ada di hadapanku, tersenyum lebar melihat keadaanku dan keluargaku. Setidaknya keluargaku bukan satu-satunya yang menjagaku. Walau ragamu tak lagi dapat kusentuh, namun jiwamu sudah jadi bagian diriku.

Terimakasih, teman.